Bahan Paparan PMK Revisi 2019 dapat di-unduh di sini




SERI #10: BELANJA INDUSTRI 4.0
IMPLEMENTASI MAKING INDONESIA 4.0




APA ITU MAKING INDONESIA 4.0

"Making Indonesia 4.0" adalah sebuah peta jalan (roadmap) yang terintegrasi untuk mengimplementasikan sejumlah strategi dalam memasuki era revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 merupakan tren global di industri manufaktur saat ini. Revolusi industri 4.0 ditandai dengan penggunaan sistem cyber-physical, yakni penggunaan sistem konektivitas antara manusia, mesin, dan data waktu melalui pemanfaatan teknologi informasi. Sebelumnya, sejarah perkembangan industri generasi pertama (industri 1.0) dimulai sejak tahun 1784 melalui proses mekanisasi dalam proses produksi, seperti penggunaan mesin uap untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan. Industri 2.0 kemudian dimulai dengan pengenalan produksi massal berdasarkan pembagian kerja (tahun 1870). Revolusi industri 3.0 pada awal tahun 1970 ditandai dengan penggunaan peralatan elektronik dan technology Information untuk otomatisasi industri.



Perubahan struktur perekonomian Indonesia menuju ekonomi berbasis jasa, menurunkan kontribusi industri manufaktur Indonesia menjadi 20 persen pada tahun 2018 setelah sebelumnya mencapai titik tertinggi sebesar 26 persen pada tahun 2001. Penurunan kontribusi sektor industri manufaktur ini diperkirakan akan terus terjadi jika tidak dilakukan intervensi apapun, hingga pada tahun 2030 kontribusi sektor industri diperkirakan mencapai 16 persen. Di lain pihak, populasi usia produktif diperkirakan akan bertambah sebanyak 30 juta orang pada tahun 2030 (bonus demografi), sehingga akan menjadi penting bagi pemerintah untuk membuka lahan pekerjaan bagi mereka. Penerapan revolusi industri 4.0 membuka peluang untuk merevitalisasi kembali industri manufaktur Indonesia, meningkatkan produktivitas pekerja, mendorong ekspor neto, serta membuka sekitar 10 juta lapangan pekerjaan tambahan yang akan menjadi landasan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk menuju 10 ekonomi terbesar di dunia.



Revolusi industri 4.0 mencakup pemanfaatan beragam teknologi canggih, seperti kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI), Internet of Things (IoT), device wearables, robotika canggih, dan 3D printing. Penerapan awal peta jalan Making Indonesia 4.0 difokuskan kepada lima sektor industri, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, dan industri elektonik. Kelima sektor tersebut difokuskan setelah melalui evaluasi dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi, mencakup ukuran Produk Domestik Bruto (PDB), perdagangan, potensi dampak terhadap industri lain, besaran investasi, serta kecepatan penetrasi pasar. Dalam praktiknya, strategi dari setiap fokus sektor akan dievaluasi setiap tiga sampai empat tahun untuk meninjau kemajuannya dan mengatasi tantangan pelaksanaannya.

KEGIATAN PRIORITAS DALAM RANGKA MAKING INDONESIA 4.0

Dalam inisiatif Making Indonesia 4.0, terdapat 10 prioritas nasional bersifat lintas sektoral untuk mempercepat perkembangan industri manufaktur di Indonesia:
  1. Perbaikan alur aliran material dengan memperkuat produksi material sektor hulu.
  2. Mendesain ulang zona industri dengan membangun peta jalan zona industri nasional.
  3. Mengakomodasi standard-standard keberlanjutan (sustainability).
  4. Pemberdayaan UMKM melalui teknologi, seperti penggunaan platform e-commerce untuk UMKM dan membangun sentra teknologi (technology bank) untuk meningkatkan akses UMKM terhadap akuisisi teknologi.
  5. Membangun infrastruktur digital nasional, termasuk internet dengan kecepatan tinggi dan digital capabilities melalui kerja sama pemerintah, publik, dan swasta untuk dapat berinvestasi di teknologi digital seperti cloud, data center, security management, dan infrastruktur broadband.
  6. Menarik investasi asing dengan menargetkan perusahaan manufaktur terkemuka global melalui penawaran yang menarik dan insentif untuk percepatan transfer teknologi.
  7. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) seperti mendesain kembali kurikulum pendidikan yang disesuaikan dengan era industri 4.0 dan program talent mobility untuk profesional.
  8. Pembentukan ekosistem inovasi melalui pengembangan pusat inovasi nasional, serta mengatur regulasi perlindungan hak atas kekayaan intelektual dan insentif fiskal untuk mempercepat kolaborasi lintas sektor di antara pelaku usaha swasta/BUMN maupun universitas.
  9. Menerapkan insentif investasi teknologi dengan menerapkan tax exemption atau subsidi untuk adopsi teknologi dan dukungan pendanaan.
  10. Harmonisasi aturan dan kebijakan untuk mendukung daya saing industri dan memastikan koordinasi pembuat kebijakan yang erat antara kementerian dan lembaga terkait dengan pemerintah daerah.

ALOKASI ANGGARAN DALAM RANGKA MAKING INDONESIA 4.0

Peta jalan Making Indonesia 4.0 memberikan arah dan strategi yang jelas bagi pergerakan industri Indonesia di masa yang akan datang. Melalui komitmen serta partisipasi aktif dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk di dalamnya kementerian dan lembaga pemerintah lainnya, kemitraan dengan pihak swasta dan pelaku industri terkemuka, investor, institusi pendidikan lembaga riset, cetak biru Making Indonesia 4.0 akan dapat dijalankan dengan sukses. Adapun alokasi anggaran terkait telah dialokasikan di tahun 2017 sebesar Rp12 miliar untuk pembuatan roadmap Making Indonesia 4.0. Selanjutnya di tahun 2018, Kementerian Perindustrian menganggarkan Rp23 miliar berupa kajian Implementasi Inisiatif Making Indonesia 4.0 di Setjen Kemenperin, Peningkatan Kapasitas Tenaga Pendidik dalam rangka Implementasi Making Indonesia 4.0 di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI), dan Pengadaan Peralatan Functional Textile Berbasis Industri 4.0 pada Politeknik STTT Bandung. Sedangkan di tahun 2019, Kementerian Perindustrian mengalokasikan anggaran sebesar Rp370 miliar yang digunakan untuk Pendirian Pusat Pengembangan dan Inovasi Industri 4.0, Pengadaan Peralatan Workshop dan Data Centre Berbasis Industri 4.0, Pembuatan Sistem Data Terintegrasi Industri 4.0, dan Pilot Project Industri 4.0.

Revolusi industri 4.0 memberikan peluang untuk merevitalisasi sektor manufaktur Indonesia dan sebagai salah satu cara untuk mempercepat pencapaian visi Indonesia untuk menjadi 10 ekonomi terbesar di dunia, meningkatkan inovasi dan model bisnis yang lebih efisien dan efektif di sektor industri. Selain itu, revolusi industri 4.0 diperkirakan akan memberi dampak ekonomi positif yaitu mendorong pertumbuhan PDB riil sebesar 1-2 persen per tahun. Pertumbuhan tersebut dipicu oleh kenaikan signifikan ekspor neto yang diperkirakan akan mencapai 5-10 persen rasio ekspor neto terhadap PDB pada tahun 2030. Implementasi Making Indonesia 4.0 pun menjanjikan pembukaan lapangan kerja sebanyak 7-19 juta, baik di sektor manufaktur maupun nonmanufaktur, pada tahun 2030 sebagai akibat dari permintaan ekspor yang lebih besar.

#UangKita
#BelanjaUangKita
#BelanjaIndustri4.0
#WBKDJA
Penulis:
Eko Roestanto, Shiddiq Ardhi Irawan, Ramdhan Ibadi

Editor:
Markus Haposan, Tiara Putri Rahmawati

Sumber Data:
Direktorat Jenderal Anggaran, Kemenkeu
dan Kementerian Perindustrian

Sumber Foto:
Kementerian Perindustrian



27/05/2019 15:55:06




Liputan


DATE WITH DATA



Realisasi Semester I APBN 2019: Kinerja Positif didukung kondisi Ekonomi makro yang stabil



BIMTEK K/L PUSAT BIDANG PEREKONOMIAN DAN KEMARITIMAN



Seri #13: Keterbukaan Informasi Mendorong Partisipasi Publik



BLC EVALUASI KINERJA ANGGARAN K/L



SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KINERJA TERPADU KEMENTERIAN KEUANGAN



SERI #12: BELANJA KESEHATAN
NEGARA HADIR BAGI MASA DEPAN BANGSA



OLIMPIADE APBN 2019, GENERASI MUDA PEDULI #UangKita



Seri #11: Membangun Infrastruktur dengan Inovasi Pengolahan Limbah Plastik



TINJAUAN VALUE FOR MONEY PADA K/L BIDANG PENDIDIKAN



KAVELING ANGGARAN AMANAT UNDANG-UNDANG



SERI #9: BELANJA PENDIDIKAN
NEGARA HADIR MENCERDASKAN ANAK NEGERI



TRAINING OF TRAINER PENGELOLAAN PNBP SDA NON MIGAS



BLC STANDAR BIAYA UNTUK MENDUKUNG EFIKTIVITAS DAN EFISIENSI PENGANGGARAN



SERI #8: BELANJA PERUBAHAN IKLIM
PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN (KARHUTLA)






 



ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN
Gedung Sutikno Slamet Jalan DR. Wahidin Nomor 1 Jakarta 10710 Kotak Pos 2435 telepon 021-3868085 Whatsapp: +628118300931 email: pusatlayanan.dja@kemenkeu.go.id
Copyright 2011 Kementerian Keuangan RI - DJA - Pusintek - 2011 | Disarankan untuk menggunakan browser yang populer dan versi terbaru




Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan RI ini ditulis oleh R. Koswara Adisaputra, Alfa Andrew Jason Bulo untuk Kementerian Keuangan RI pada Agustus 2011